Penyakit Busuk Daun / Bercak Ungu (Alternaria porri) pada Tanaman Bawang Merah
Pendahuluan
Penyakit bercak ungu atau busuk daun yang disebabkan oleh jamur Alternaria porri merupakan salah satu penyakit utama pada budidaya bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) di berbagai negara tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang daun, tangkai bunga, hingga umbi, dan sering menyebabkan penurunan hasil yang signifikan, terutama pada musim lembab dengan kelembapan tinggi.
Pada sentra bawang merah di Indonesia, penyakit ini sering muncul bersamaan dengan kondisi cuaca lembab, curah hujan tinggi, sirkulasi udara buruk, dan pemupukan nitrogen berlebihan. Serangan berat dapat menyebabkan daun mengering prematur sehingga proses pembentukan umbi terganggu.
Ilustrasi Penyakit Bercak Ungu
Etiologi Penyakit
Penyebab penyakit bercak ungu adalah jamur Alternaria porri (Ellis) Ciferri. Jamur ini termasuk kelompok Deuteromycetes dan berkembang sangat baik pada kondisi hangat dan lembab. Spora jamur mudah menyebar melalui:
- Angin
- Percikan air hujan
- Alat pertanian
- Benih atau bibit terinfeksi
- Sisa tanaman sakit di lahan
Jamur mampu bertahan pada sisa tanaman dan tanah dalam waktu cukup lama sehingga menjadi sumber inokulum pada musim berikutnya.
Gejala Penyakit
Gejala awal biasanya berupa bercak kecil berwarna putih keabu-abuan pada daun. Selanjutnya bercak berkembang menjadi:
- Berwarna ungu kecoklatan
- Bentuk oval atau lonjong
- Memiliki lingkaran konsentris
- Dikelilingi halo kuning
Pada serangan berat:
- Daun menjadi layu
- Ujung daun mengering
- Daun patah atau rebah
- Fotosintesis menurun drastis
Jamur juga dapat menyerang tangkai bunga dan menyebabkan kualitas benih menurun.
Kondisi Lingkungan yang Mendukung
Perkembangan penyakit sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama:
| Faktor | Kondisi Optimum |
|---|---|
| Suhu | 24–30°C |
| Kelembapan relatif | >90% |
| Curah hujan | Tinggi |
| Embun daun | Lama |
| Sirkulasi udara | Buruk |
Penelitian menunjukkan bahwa kelembapan tinggi dan suhu hangat mempercepat perkecambahan spora serta perkembangan bercak pada daun.
Dampak terhadap Produksi
Penyakit bercak ungu dapat menyebabkan kerugian hasil yang besar. Beberapa penelitian melaporkan kehilangan hasil mencapai:
- 20–60% pada kondisi umum
- Hingga 100% pada serangan berat dan tidak terkendali
Kerugian terjadi karena daun mengalami kerusakan berat sehingga proses pembentukan umbi terganggu. Selain itu kualitas umbi dan daya simpan juga menurun.
Siklus Penyakit
Siklus penyakit dimulai dari spora jamur yang menempel pada permukaan daun. Pada kondisi lembab, spora berkecambah dan masuk melalui:
- Luka daun
- Mulut daun (stomata)
- Bekas gigitan thrips atau serangga
Setelah infeksi terjadi, bercak berkembang dan menghasilkan spora baru yang kemudian menyebar ke tanaman lain.
Pengendalian Penyakit
1. Pengelolaan Lahan dan Budidaya
Pengendalian kultur teknis sangat penting untuk menekan perkembangan penyakit:
- Mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara baik
- Menghindari genangan air
- Menggunakan benih sehat
- Melakukan rotasi tanaman
- Memusnahkan sisa tanaman sakit
- Mengurangi kelembapan berlebih
Penggunaan nitrogen berlebihan sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan jaringan daun lebih lunak dan rentan terhadap infeksi.
2. Peningkatan Ketahanan Tanaman melalui Nutrisi
Tanaman dengan nutrisi seimbang memiliki ketahanan lebih baik terhadap serangan penyakit. Unsur penting yang berperan antara lain:
- Kalium (K)
- Kalsium (Ca)
- Silika (Si)
- Fosfor (P)
Kalium membantu memperkuat jaringan tanaman dan meningkatkan ketahanan terhadap stres. Kalsium memperkuat dinding sel, sedangkan silika membantu meningkatkan kekakuan jaringan daun sehingga penetrasi jamur lebih sulit.
Pemupukan yang seimbang juga membantu tanaman mempertahankan aktivitas fotosintesis saat terjadi infeksi ringan.
3. Penggunaan Agen Hayati
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa agen hayati seperti:
- Trichoderma viride
- Pseudomonas fluorescens
dapat membantu menekan perkembangan Alternaria porri.
4. Penggunaan Fungisida
Fungisida digunakan terutama saat kondisi cuaca mendukung perkembangan penyakit tinggi. Bahan aktif yang umum digunakan antara lain:
- Mancozeb
- Chlorothalonil
- Difenoconazole
- Azoxystrobin
- Iprodione
- Propineb
Penyemprotan sebaiknya dilakukan preventif sebelum serangan berat terjadi dan dirotasi untuk mencegah resistensi jamur.
Kesimpulan
Penyakit bercak ungu (Alternaria porri) merupakan salah satu penyakit paling merugikan pada budidaya bawang merah. Penyakit berkembang pesat pada kondisi lembab dan hangat serta dapat menyebabkan kehilangan hasil sangat besar. Pengendalian yang efektif harus dilakukan secara terpadu melalui:
- Perbaikan kondisi lahan dan budidaya
- Pemupukan berimbang untuk meningkatkan ketahanan tanaman
- Penggunaan agen hayati
- Aplikasi fungisida secara tepat dan terukur
Pendekatan terpadu lebih efektif dibanding hanya mengandalkan fungisida semata.
Daftar Pustaka
- Ahmed, M. (2017). Efficacy of Bioagents against Alternaria porri Incitant of Purple Blotch Disease of Onion. Egyptian Journal of Phytopathology.
- Asghar, M. et al. (2025). Investigating the biochemical variations in onion leaves due to Alternaria porri infection. PLOS ONE.
- Tamil Nadu Agricultural University. Purple blotch: Alternaria porri.
- Lucid Central. Onion Purple Blotch Fact Sheet.
- Kim, M.Y. et al. (2022). Characterization of Alternaria porri causing onion purple blotch. PLOS ONE.
- Gupta, R.B.L. (1988). Yield losses in onions due to purple blotch disease caused by Alternaria porri.
- Ravichandra, S. et al. (2023). Delineation of Purple Blotch Disease Hotspots Caused by Alternaria porri in Southern Karnataka. International Journal of Environment and Climate Change.
- Utah State University Extension. Purple Blotch Disease Notes.
- Plantwise Knowledge Bank. Purple blotch of onion.
- Eco-friendly Management of Purple Blotch (Alternaria porri) of Onion. (2024).

